Jumat, 19 September 2014

KITA ADALAH BUDAK DI ZAMAN MODEREN


Untuk mengetahui kegilaan tersebut, marilah kita melangkah perlahan-lahan.... Sedikit demi sedikit.... Karena pastilah tidak mudah bagi anda untuk memahami sesuatu yang telah ditutupi oleh pemikiran yang licik selama berabad-abad ini....

Sejak anda muncul di dunia ini, anda sudah terkondisikan dalam kandang perbudakan modern. Sehingga anda menerima begitu saja semua keadaan ini dan merasa nyaman2 saja dengan semua ini. Karena bagi anda, memang dari dulu seperti inilah adanya. Sehingga menurut pemikiran anda pun memang seperti inilah seharusnya & keadaan seperti ini adalah wajar bagi anda....

Siapkan diri anda.... buka parasut anda.... dan mari kita mulai.......

Mari, kita lihat skema sistem perekonomian berikut ini:




Sekarang, mari kita lihat lingkungan kita dengan sudut pandang global, secara menyeluruh bukan individu atau perorangan. Jadi dari sudut pandang sistem, bukan dari sudut pandang anda secara perorangan. Anda dan saya hanyalah bagian dari sistem.

Seperti halnya dalam lagu “panggung sandiwara”, setiap orang di dunia ini memainkan peranan tertentu. Jadi kita lihat dari peranan2 yang ada di dunia ini, bukan individu pemerannya. Produsen, diperankan oleh perusahaan dan pabrik, baik itu industri besar maupun kecil. Agen, ya diperankan oleh para agen dan distributor. Retail, diperankan para pengecer, baik besar maupun kecil. Dan maaf, peran anda hanya sebagai user/pengguna produk, masyarakat yang diperbudak....

Saya rasa peranan diatas sudah mewakili. Jika kurang silahkan ditambah, jika lebih silahkan dikurangi....

Secara umum, seperti itulah aliran produk, baik itu berupa barang maupun jasa. Produk tersebut diproduksi oleh produsen. Dari produsen masuk ke agen/distributor, lalu ke pengecer, dan digunakan oleh masyarakat yang yang membutuhkannya. Tidak mungkin barang itu kembali lagi ke produsen untuk digunakannya....

Paham ... !

Disini kita tidak akan membahas bahan mentah dari produk tersebut, hal itu tidak perlu dibahas disini....

Lanjut....

Agar produk tersebut dapat berpindah tangan dari produsen sampai ke tangan masyarakat sebagai pengguna, maka harus dilakukan pertukaran. Dimana pertukaran pada jaman dulu dilakukan secara langsung, yaitu barang dengan barang. Alias barter secara langsung....

Namun karena hal tersebut merepotkan, maka manusia mencari jalan keluarnya, yaitu menggunakan sarana pertukaran. Yang kemudian disebut “uang”.... Jadi, uang sebenarnya merupakan suatu temuan teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia.... yaitu teknologi alat tukar....

Ya..., uang sebenarnya merupakan alat tukar. Dan pertukaran barang dengan alat tukar merupakan barter tidak langsung, yang biasa disebut jual-beli....

Jual berarti menukar barang dengan alat tukar.

Beli berarti menukar alat tukar dengan barang.

Jadi saat anda membeli sesuatu dengan uang, sebenarnya anda melakukan barter tidak langsung. Anda menukar alat tukar yang anda miliki dengan barang yang anda inginkan. Bukan anda membeli barang dengan uang. Karena alat tukar tidak bisa membeli apapun, dan tidak akan pernah bisa membeli apapun...!!!

Uang hanyalah kertas yang tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan barang yang diperjualbelikan. Apakah anda bisa makan uang...? Apakah anda bisa berpakaian dengan uang...? Apakah anda bisa......

Jadi nilai kekayaan yang sesungguhnya ada pada barang2 yang dipertukarkan, bukan pada uang. Uang hanyalah alat tukar, bukan kekayaan riil, karena uang tidak ada nilainya.... dan uang hanyalah alat untuk menilai, seperti penggaris atau timbangan....

Inilah salah kaprah yang pertama.

Dan sebagian besar orang menerima kesalah kaprahan ini. Sebagian besar orang menerima bahwa uang adalah barang yang berharga dan bernilai tinggi, sesuai dengan angkanya. Semakin besar angkanya, semakin lebar senyum anda......

Dalam ilmu per”uang”an dikenal nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik.

Nilai intrinsik adalah nilai yang terkandung dalam alat tukar itu sendiri. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah kertas yang digunakan untuk membuat uang. Menurut anda, berapakah nilai dari selembar kertas uang tersebut.... Apakah melebihi nilai sepiring nasi....? Berbedakah nilai dari selembar kertas yang digunakan untuk uang dengan angka 100, 500, 1000, ..., 100.000 rupiah...?

Nilai ekstrinsik adalah nilai nominal uang tersebut, yang diwakili dengan angka. Ya, sekali lagi angka. Hanya itu yang membedakannya. Dan biasanya kertas tersebut diberi gambar pahlawan, supaya kelihatan lebih dapat dipercaya oleh masyarakat nasional. Semakin besar angkanya, semakin lebar senyum anda......

Sudah bingung belum...?

Kan sudah saya bilang..., sahabat kita yang licik ini telah menggunakan kandang sistem keuangan untuk menutupi kenyataan yang ada dengan berbagai istilah perbankan & perekonomian yang salah kaprah dan membingungkan....

Silahkan pahami lagi.....

Ok, jika tidak bingung, monggo silahkan dilanjut.....

Sekarang kita lihat skema perputaran barang dan uang berikut ini:




Lingkaran di luar merupakan siklus aliran uang. Dimana produsen mendapatkan uang dari agen dengan cara menjual barang produksinya, agen mendapat uang dengan cara menjualnya ke pengecer, lalu pengecer ke masyarakat....

Lalu darimana masyarakat mendapatkan uang untuk membeli produk dari pengecer...?

Masyarakat menjual dirinya ke produsen. Mereka bekerja menjadi buruh dengan menjual tenaga dan waktunya, atau yang lebih keren buruh profesional dengan menjual waktu dan pikirannya....

Kalau dipikir-pikir, mirip pelacuran bukan...? Hanya saja yang kita jual tenaga, pikiran, dan waktu kita. Sedangkan pelacur.....

Sebenarnya sama dengan pelacur, kita tidak akan mau melakukan itu semua jika tidak diberi uang. Dan banyak masyarakat yang menjual dirinya ke produsen karena keterpaksaan untuk mendapatkan beberapa lembar kertas guna memenuhi kebutuhan hidup....

Meskipun dimarahi, dibentak-bentak, diperas tenaganya pagi siang sore dan malam.... mereka pasti akan kembali lagi besok. Karena.....

Ok, kembali ke.....

Disitu dapat kita lihat bahwa siklus uang merupakan siklus tertutup, sehingga uang berputar terus, berpindah dari tangan ke tangan. Berbeda dengan siklus barang, siklus barang akan terputus setelah barang sampai ke penggunanya.

Oleh karena itulah, alat tukar disebut sebagai “currency” yang berasal dari kata “current” yang artinya “arus”, bukan “money” = “uang”. Dan currency diterjemahkan sebagai mata uang, bukan uang....

Inilah salah kaprah yang kedua.

Currency ≠ money; mata uang ≠ uang. Uang yang sesungguhnya, saat ini sudah tidak ada. Padahal selama ini kita menyebut kertas itu sebagai uang kan...?

Saya pun jadi bingung, harus menulis uang atau mata uang disini. Tak apalah, yang penting anda sudah tahu kesalah kaprahan ini....

Currency/mata uang itu melambangkan arus, jadi harus mengalir terus, harus berputar terus. Berpindah dari tangan ke tangan agar perekonomian terus berjalan.

Dan jika banyak orang menyimpan currency di rumah, itu akan menghambat aliran sistem. Oleh karena itulah mereka membuat bank, agar currency “disimpan” di bank, kemudian mereka alirkan kembali..... dalam bentuk kredit...!!!

Sekarang perhatikan...!

Kotak produsen < agen < pengecer < pengguna. Karena dalam kenyataannya memang demikian, semakin besar kotaknya berarti semakin banyak jumlah pemerannya.... Jadi jumlah produsen pasti lebih kecil dari agen, jumlah agen < pengecer, jumlah pengecer < pengguna.

Mari berkhayal....

Misalkan jumlah total mata uang yang ada dalam peredaran adalah 1jt, dan produsen 3, agen 13, pengecer 33, pengguna 130. Dan mata uang 1jt tersebut mengalir/berpindah tangan secara sempurna.

Misal, begitu mata uang masuk ke produsen langsung dibelanjakan semua, masuk ke pengguna lalu dibelanjakan semua, masuk ke pengecer lalu dibelanjakan semua, masuk ke agen lalu dibelanjakan semua. Dan begitu seterusnya....

Kira2 siapakah yang paling merasakan kekayaan...? Dan siapakah yang paling merasakan kekurangan...?

Tepat sekali..., produsen lah yang paling kaya dan masyarakat pengguna lah yang merasakan paling kekurangan.... Karena bagi produsen, 1jt cuma dibagi bertiga. Sedang bagi masyarakat pengguna 1jt dibagi ber 130. Seperti itulah kira2 kenyataan yang ada.... Bahkan lebih buruk lagi, karena mata uang mengalir tidak sempurna....

Maka benarlah jika prinsip pareto mengatakan bahwa, 80% uang yang beredar dikuasi oleh 20% orang. Sedangkan 20% uang yang beredar diperebutkan oleh 80% orang. Karena pada kenyataannya uang tidak mengalir secara sempurna, sebagian besar uang hanya beredar di kalangan menengah keatas, tidak pernah sampai ke bawah....

Siapakah kalangan menengah ke atas....? Merekalah bankir dan teman2nya....

Perhatikan ini....
RBTV, Selasa 16/07/2013 : Rekening deposito diatas 2 milyar ada 150.000. Uang beredar 250 triliun. Jumlah penduduk 250 juta.
Rata-rata, ada 1 juta untuk tiap penduduk. Tapi ternyata ada 190 juta penduduk tidak pernah berurusan dengan bank.

finance.detik.com, Kamis, 14/06/2012 - ...... Jumlah nasabah kaya perbankan Indonesia dengan simpanan di atas Rp 5 miliar mencapai 51.422 nasabah per April 2012...... Simpanan dengan segmen nominal di atas Rp 5 miliar tersebut memiliki proporsi sebesar 42,59% dari total simpanan......

Jakarta, Kompas, Jan 24, 2005 - Bank Dunia menyebutkan lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia tergolong miskin karena masih hidup dengan penghasilan di bawah US $2 atau Rp 18.310 per hari....
Meskipun 250 triliun itu dibagi rata masing2 penduduk 1 juta, maka tidak lama kemudian, pasti akan kembali lagi ke prinsip pareto yang 80:20. Dan sistem keuangan lah yang melakukan itu, bukan karena penduduknya yang malas bekerja......

Ya... arus currency didesain sedemikian rupa, agar kendali sepenuhnya berada di tangan para penguasa perbudakan.... Mereka bisa saja dengan mudahnya menambah ataupun mengurangi arus currency semau mereka, demi kepentingan mereka tanpa menghiraukan efeknya pada masyarakat....

Jika arus currency tersebut berkurang atau bahkan terhenti, maka akan terjadi kekacauan ekonomi. Berkurangnya atau bahkan putusnya salah satu arus dari satu pemeran ke pemeran lain, akan bedampak buruk bagi masyarakat....

Misalkan dari produsen ke masyarakat terhenti arusnya. Maka itu bisa berarti bahwa produsen berhenti beroperasi, sehingga tidak ada produk baru lagi. Tidak ada yang bisa diperjual belikan. Masyarakat yang biasanya menjadi buruh bagi produsen sekarang menganggur, sehingga tidak punya uang untuk membeli barang. Terjadilah kemacetan ekonomi, yang biasanya disebut dengan krisis ekonomi atau krisis moneter....

Krisis moneter pasti akan merembet pada kekacauan sosial & politik. Masyarakat sosial dan pemerintahan politik akan saling menyalahkan satu sama lain, dan mereka tidak akan pernah menyadari penyebab utama permasalahnya. Seperti yang dulu terjadi pada tahun 1997 – 1998....

Krisis ekonomi bukan berarti produk dan alat tukar tidak ada. Semua itu ada, hanya saja arus terhenti....

Paham ... ! Atau bingung....?



Money vs Currency


Tahukah anda bahwa kekayaan anda yang sebenarnya adalah kemerdekaan anda, kebebasan dan waktu yang anda miliki. Bukan jumlah uang yang anda miliki.....

Uang adalah alat yang digunakan untuk membeli waktu dan kebebasan anda. Sedang bagi anda, uang merupakan sarana untuk menyimpan energi ekonomi anda, hingga anda merasa cukup untuk menggunakannya.

Dan selama ini kita telah dikelabuhi, sehingga bukan uang sungguhan “money” yang digunakan, namun uang palsu, yaitu mata uang “currency”. Dan kemudian, mata uang ini digunakan sebagai alat untuk mencuri kekayaan anda yang sesungguhnya, yaitu kemerdekaan anda - waktu anda dan kebebasan anda....

Uang palsu itulah yang digunakan sebagai alat untuk menjajah dan memperbudak kita semua.... dengan cara “membeli” kemerdekaan, waktu dan kebebasan semua orang.... Sudah bukan jamannya perbudakan fisik....

Apa sech bedanya currency dan money.....

Mata uang (currency)
   
Uang (money)
Sarana pertukaran
Satuan perhitungan
Mudah dibawa
Tahan lama
Dapat dibagi
Dimanapun sama nominalnya
Mudah diproduksi
Tidak punya nilai intrinsik
   
Sarana pertukaran
Satuan perhitungan
Mudah dibawa
Tahan lama
Dapat dibagi
Dimanapun sama nominalnya
Tidak bisa diproduksi
Punya nilai intrinsik (koin emas & perak)

Jadi, koin emas dan perak itulah uang yang sesungguhnya. Uang tidak bisa diproduksi oleh siapapun dan jumlahnya terbatas. Jika orang ingin mendapatkan uang, maka dia harus melakukan suatu kegiatan yang produktif. Baik itu melakukan pertambangan logam mulia, ataupun memproduksi suatu barang lalu menukarnya dengan uang.

Sedangkan mata uang.... Kita sebagai masyarakat biasa harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Banyak masyarakat yang sudah bekerja keras membanting tulang demi kelangsungan perekonomian global, tetapi tetap tidak mendapatkan sejumlah mata uang yang sesuai. Bahkan kadang membanting tulang orang lain sekalipun, masih tetap saja tidak mendapatkan sesuai harapan....

Tapi mereka yang menyatakan diri memiliki wewenang untuk ngeprint mata uang, ya tahu sendiri lah..... mereka pasti kaya. Tinggal tidur, dan tanpa perlu melakukan kegiatan yang produktif sekalipun mereka kaya. Darimana kekayaannya...? Ngeprint...!!!

Lalu kertas tersebut diupahkan kepada mereka yang bekerja keras.....

Dan setelah mata uang itu ada di tangan para pekerja keras, maka uang itu akan dengan cepat kembali lagi ke mereka2 yang ngeprint mata uang. Entah itu lewat pajak maupun harga barang yang kita beli, atau bahkan langsung kita masukkan ke bank.....

Adilkah ini...., wajarkah ini...., di satu sisi masyarakat harus bekerja keras namun tetap kekurangan, disisi lain sekelompok orang tinggal ngeprint dan kaya raya......?

Wake up brow..... !!!




Dari Mana Mata Uang Berasal....?


Jika kita lihat skema diatas tadi, dapat kita ketahui bahwa produk yang berputar dalam sistem perekonomian berasal dari produsen. Tapi dari manakah asal uang yang berputar dan mengalir dalam sistem tersebut...?

Sebelumnya kan tidak ada barang dan jasa.... Lalu produsenlah yang memproduksinya kemudian mengedarkannya, lalu terbentuklah sistem perekonomian tersebut.

Begitu pula, sebelumnya kan tidak ada uang.... ya tow....?
Lalu darimanakah uang itu berasal...? Siapakah yang memproduksinya...? Dan siapakah yang mengedarkannya...?

Mudah....,

Jawabnya adalah pabrik mata uang.... :-)
Pihak yang menyatakan diri berwenang ngeprint mata uang lah yang melakukan itu semua.....




Fiat Money


Dulu, mata uang kertas sebenarnya merupakan surat klaim terhadap emas yang disimpan di bank. Hal ini dilakukan untuk mempermudah transaksi, karena membawa emas kesana kemari dalam jumlah banyak terlalu repot.

Pada mulanya, ditetapkan bahwa 1 ounce emas nilainya setara dengan 20 dollar. (1 ounce = 28,34 gr) . Sehingga jika bank ingin mencetak mata uang, maka mereka harus punya emas yang nilainya setara dengan mata uang yang ingin mereka cetak. Mereka tidak bisa seenaknya ngeprint mata uang tanpa emas....

Bank manapun boleh mengeluarkan uang kertas dollar, dengan patokan 1 ounce = 20 dollar. Dan masyarakat boleh menolak pembayaran dengan mata uang kertas dari bank tertentu jika mereka merasa tidak percaya dengan bank tersebut, atau kesulitan untuk menukarkan uang tersebut dengan emas, karena letak bank yang terlalu jauh.... Dulu jarak masih jadi masalah brow...... :-)

Jadi jika seseorang mempunyai mata uang kertas senilai total $20, entah itu berupa pecahan $1, $5, ataupun selembar $20. Maka dia bisa menukarkan mata uang itu dengan emas murni seberat 1 ounce di bank penerbitnya.

Namun semenjak bank sentral “The Federal Reserve Bank” muncul di tahun 1913, mereka berusaha melakukan monopoli terhadap sistem keuangan global dan menghilangkan standar emas tersebut. Dan saat ini, mereka bukan hanya berhasil memonopoli sistem keuangan, tapi juga berhasil menguasai pemerintahan. Dan akhirnya hanya ada satu jenis mata uang kertas dollar. Yaitu kertas dollar yang diterbitkan oleh The Federal Reserve Bank, dan seluruh mata uang lain di dunia ini, didasarkan pada dollar The Fed ini...

Pada tahun 1971, melalui presiden Nixon, The Fed menyatakan bahwa dollar tidak perlu didukung dengan emas lagi. Kertas dollar bukanlah surat klaim terhadap emas lagi....

Semenjak itu lah uang kertas menjadi “fiat money”. Fiat = ketetapan. Dan mereka bisa mencetak mata uang sebanyak yang mereka mau tanpa emas....

Jadi mata uang fiat hanyalah kertas yang ditetapkan sebagai alat pembayaran oleh pihak berwenang. Dan masyarakat wajib menerima uang kertas tersebut sebagai alat pembayaran, tanpa terkecuali.... Atau mereka akan berurusan dengan pengadilan....

Begitu pula jika ada yang mencoba mencetak sendiri uang kertas tersebut, meskipun bisa sama persis tanpa perbedaan sama sekali..... tetap saja hal itu dianggap sebagai pemalsuan uang....

Semacam pemaksaan yach.... mereka boleh kok kita tidak..... ?!#*%

Seperti dulu yang pernah dilakukan oleh Korea Utara, mereka ngeprint lembaran $100 US yang sama persis..... salut.... like this.... 2 jempol.... :-)

Dulu uang kertas bertuliskan “bisa ditukar dengan emas”... semenjak menjadi fiat money, hanya bertuliskan “alat pembayaran yang sah”..... hanya kertas, tanpa back up emas sama sekali..... sehingga mereka bisa ngeprint sebanyak apapun yang mereka mau, tanpa batas..... sedangkan anda harus bekerja keras untuk mendapatkannya....!!! Betapa indahnya hidup ini....!?

Dan saat ini.... kartel perbankan internasional yang ada di balik The Fed telah berhasil menguasai dunia melalui jaringan sistem keuangan global... Mereka telah berhasil menjerat seluruh pemerintahan yang ada di dunia ini dengan sistem keuangan globalnya....

Itulah kekaisaran dari para penguasa perbudakan..... kekaisaran fiat money..... monopoli alat tukar yang berupa uang kertas terbitan mereka....

Dan anda akan segera mengetahui cara kerja kekaisaran yang kejam dan tidak manusiawi ini.....




Sektor Riil vs Sektor Finansial


Dalam sistem perekonomian dikenal dua sektor, yaitu sektor riil dan sektor finansial/keuangan/perbankan. Perhatikan bagan dibawah ini....




Bagian atas skema tersebut adalah para pemeran yang terlibat dalam sektor riil. Disinilah produk2 riil dipertukarkan dengan mata uang.

Sedang bagian bawah adalah para pemeran yang terlibat dalam sektor finansial. Dari sektor inilah mata uang berasal lalu beredar ke sektor riil. Mata uang dari bank sentral masuk ke bank sirkulasi. Dari bank sirkulasi, sebagian masuk ke sektor riil langsung, dan sebagian masuk dulu ke pemerintahan baru masuk ke rakyat di sektor riil.




Oh My God.....


Jika produk riil berpindah tangan dengan cara ditukarkan dengan mata uang. Lalu mata uang berpindah tangan dari sektor finansial ke sektor riil ditukar dengan apa...?

Tidak ditukar dengan apa2..., mata uang masuk ke sektor riil dengan cara DIPINJAMKAN alias DIKREDITKAN atau DIHUTANGKAN.... Padahal mereka tinggal ngeprint low...... !? Dibagikan gratis pun sebenarnya bisa, kaya main monopoli itu.... Iya, beneran.....

Tapi kenapa dihutangkan....?

Ya, sektor riil yang mempunyai “barang dan jasa sungguhan” justru lebih miskin dan berhutang kepada sektor finansial. Padahal sektor finansial hanya punya kertas yang diberi gambar pahlawan dan ditulisi angka..... dan merekalah yang disebut “rojo koyo”.... rajanya kekayaan....

Jadi masyarakat berhutang kepada bank sirkulasi, lalu bank tersebut berhutang kepada bank sentral. Bank sentral, tinggal ngeprint sebanyak yang dia mau brow......

Karena hutang harus dibayar, maka kemudian masyarakat membayar hutang ke bank, dan bank membayar hutang ke bank sentral. Bank sentral, profitnya buat apa yach....?

Atau aliran yang kedua, pemerintah pinjam uang ke bank. Lalu diberikan kepada masyarakat, baik itu berupa gaji pegawai pemerintahan atau sebagai bayaran dari tender proyek pembangunan. Dan ingat, pemerintah hutang kepada bank low..... Pernahkah anda mendengar hutang nasional, yang totalnya mencapai triliunan rupiah....?

Jadi pada gilirannya nanti pemerintah harus membayar hutang itu kembali kepada bank. Lalu bank membayar hutangnya kepada bank sentral.

Tapi darimana pemerintah mendapatkan mata uang untuk membayar hutangnya....? Tentu saja dari rakyatnya, dengan cara memungut seabrek pajak....

Jadi sebenarnya yang membayar hutang pemerintah adalah rakyat, termasuk anda dan saya.... GUBRAK.....!?#@%

Anda pikir pajak itu untuk pembangunan....? Tidak...!!! Hanya sebagian kecil yang kesitu, sebagian besar buat bayar hutang gitu loh.... Lalu mata uang untuk pembangunan dari mana....? Hutang lagi gitu loh....

Oleh karena itulah hutang pemerintah terus membengkak dari tahun ke tahun....

Dulu, sebelum krisis tahun 97-98 terjadi, pemerintah boleh meminjam langsung ke bank sentral. Tapi setelah krisis, yang kemudian katanya terjadi kasus BLBI, maka aturan mainnya mereka ubah. Mungkin dulu pembagian uangnya kurang merata, jadi ada yang protes.... :-) Aturan mainnya mereka ubah dengan menggunakan UU 23/1999.

Berikut cuplikannya....


UU 23/1999
Pasal 56
(1) Bank Indonesia dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah.


Setelah itu pemerintah hanya boleh berhutang melalui bank yang ada di bawah bank sentral – skema di atas. Dan jika bank itu kekurangan dana, maka dia akan pinjam ke bank sentral....
Lucu yach, kayaknya sama saja...., cuma tambah muter2 aja. Cape dech....
Lihat ini, rekor utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000 yang saya dapat dari SINI....

Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
Tahun 2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)
April 2013: Rp 2.023,72 triliun (24%)


Jangan dibaca.... tambah pusing nanti..... liha aja gambar berikut.... :-)

 



Naik atau turunkah trendnya....?

Dan hutang itu akan terus mendaki... Bahkan trend pertumbuhannya akan cenderung eksponensial, bukan linier lagi. Jangan harap berkurang, apalagi lunas....

NGGAK MUNGKIN LUNAS....!!! wani piro....?

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga April 2013 adalah:

Bilateral: Rp 329,46 triliun
Multilateral: Rp 225,43 triliun
Komersial: Rp 24,43 triliun
Supplier: Rp 340 miliar
Pinjaman dalam negeri: Rp 1,82 triliun


Lucu kan.... Pinjaman dalam negeri, pemerintah kok pinjam ke negerinya sendiri..... kere amat.....

Bukankah negeri ini dipimpin dan dikuasai oleh pemerintah....?

Ibarat seorang bos pinjam uang ke anak buah untuk menggaji anak buahnya itu....? Gimana coba.....

Bingung tow....... :-)

Jika anda belum pusing dengan data utang diatas, Silahkan search di internet dengan keyword yang sesuai. Anda bisa menemukan data akurat yang lebih banyak lagi disana....

Jadi begitu ada bayi yang lahir di Indonesia tercinta ini, dia sudah dibebani hutang. Bayangpun, menangis aja belum bener, sudah dibebani hutang triliunan rupiah..... Dan jika dibagi rata, maka tiap penduduk dapat bagian hutang ± 8,5 juta.... sik asik..... lumayan.....

Apakah anda melihat suatu kejanggalan....?

Sekarang, Perhatikan....!!!

Bank sentral adalah pusatnya segala bank. Bank dibawah bank sentral biasanya disebut sebagai bank sirkulasi. Bank sirkulasi bisa berupa bank investasi ataupun bank komersial. Dan bank sirkulasi bertujuan mendapatkan profit, baik itu swasta maupun milik pemerintah.

Bank sentral :
bank yang mempunyai kekuasaan untuk mencetak mata uang. Istilah kerennya “Lender of last resort”. Sumber pemberi pinjaman terakhir. Gimana tidak, lha wong dia kalo kehabisan duit tinggal ngeprint....... #?%!!!

Bank sirkulasi :
bank yang bertugas mengedarkan mata uang di masyarakat, dengan cara meminjamkan mata uang yang dia pinjam dari bank sentral atau yang dia kumpulkan dari masyarakat.

Bank komersial :
bank sirkulasi yang meminjamkan mata uang ke masyarakat langsung. Karena tujuannya untuk mendapatkan profit, maka bunga yang dibebankan kepada masyarakat lebih besar daripada bunga yang dibebankan kepadanya oleh bank sentral.

Bank investasi :
bank sirkulasi yang hanya berurusan dengan bank lain dan institusi keuangan lain, tidak memberikan pinjaman kepada masyarakat langsung.

Bank syariah :
tidak jauh berbeda dengan bank komersial, hanya namanya saja yang pakai istilah syariah.

Bank sentral memproduksi mata uang sebanyak yang mereka mau. Tentu saja dengan aturan internal yang biasa mereka sebut sebagai kebijakan moneter, katanya agar uang yang beredar tidak kurang & tidak lebih. Tapi pada dasarnya sama saja, mereka bisa ngeprint uang berapapun yang mereka inginkan.....

Dengan mudah sekali mereka bisa menjadi kaya tanpa melakukan kegiatan yang produktif sama sekali. Yang mereka lakukan hanya ngeprint uang, lalu meminjamkannya dan menarik bunga. Tanpa kegiatan yang produktif, tapi justru merekalah yang paling kaya, karena mereka yang ngeprint uang. Sedang mereka yang ada di lini depan kegiatan yang produktif, biasanya nggak jauh-jauh dari istilah “kere”.....




Milik Siapa....?


Apakah anda tahu bank sentral itu milik siapa...?

Bank Indonesia sebagai bank sentralnya Indonesia berdiri pada 1 Juli 1953, dulunya adalah bank milik Belanda dengan nama De Javasche Bank NV. Dengan UU 24/1951 bank tersebut lalu diakuisisi oleh Indonesia. Dan kemudian dengan UU 11/1953 namanya diubah menjadi Bank Indonesia. Dan kemudian ditetapkan menjadi bank sentral dengan UU 13/1968.

Nah lo...... dari situ kan dapat kita ketahui bahwa BI adalah milik negara Indonesia, milik rakyat Indonesia gitu loh.... Tapi mengapa rupiah yang dicetaknya dihutangkan ke pemerintah Indonesia...., ke rakyat Indonesia...? Yang pada gilirannya hutang itu harus dibayar rakyat lewat pajak. Dan hutang itu harus dibayar + bunga lagi....

Bukankah rupiah yang dicetak BI bisa dengan gratis diberikan kepada pemerintah, bukan malah dihutangkan...? Karena yang memberi ijin dia mencetak mata uang kan pemerintah.... Bayangpun coba, yang mempunyai kekuasaan & memberi ijin kok malah harus berhutang kepada yang diberi ijin... Pada dasarnya pemerintah kan bisa mencetak uang sendiri dengan gratis..., tanpa perlu report2 memberikan ijin & kewenangan kepada pihak bank untuk melakukannya, dan kemudian berhutang padanya.... koplack.... !?

Lalu pemerintah bisa membelanjakan uang itu pada rakyatnya, sehingga rakyat tidak perlu repot2 membayar pajak dan pemerintah pun ga perlu pusing2 mikir hutang negara.... Kalaupun ada pajak, pasti kecil sekali.... Dan digunakan murni untuk pembangunan dan kepentingan rakyat, untuk subsidi ini itu, bukan untuk bayar hutang + bunga....

Jika belum paham 2 paragraf di atas, baca sekali lagi.... !!!

Mengapa harus dihutangkan....? Mengapa Indonesia harus memberi hutang ke Indonesia....? Mengapa Indonesia harus berhutang ke Indonesia....? Sungguh hal yang tidak masuk akal... Indonesia memberi hutang sekaligus berhutang pada Indonesia sendiri....

Mengapa Indonesia harus membebani generasi yang belum lahir dengan triliunan hutang nasional, padahal rupiah tersebut bisa diberikan secara gratis....?

Gak sesuai dengan hati nurani yang luhur dan akal sehat......

Gak sesuai dengan sila ke 2, kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena Indonesia memberi hutang sekaligus berhutang pada Indonesia, yang kemudian harus dibayar oleh rakyat.... Ini adalah tindakan yang tidak manusiawi, tidak adil dan tidak beradab....

Gak sesuai dengan sila ke 5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil dimananya coba...., bayangpun yang berhutang pemerintah yang suruh bayar rakyatnya, bahkan rakyat yang belum lahirpun harus membayarnya....

Dan kemanakah bunga yang diperoleh BI dari pembayaran hutang pemerintah selama ini....? Kalau akhirnya diberikan ke pemerintah lagi, ngapain tadi diberikan dalam bentuk hutang.....?

Dari awal kek.... diberikan secara gratis, ga usah muter2 gitu napa....?

Itulah salah kaprah yang ketiga.

Tambah bingung ..... ?

Bagus, berarti anda sedang berpikir.... Karena jika anda tidak bingung, berarti anda tidak memikirkannya. Jadi kebingungan anda saat ini adalah tanda dari kemajuan anda.... selamat....

Tenang...., ga usah bingung...... Anda akan mendapatkan jawabannya dengan terbukanya lembar demi lembar buku monyet ini....

Mau break dulu, silahkan..... Mau lanjut, juga monggo......




Gila..., ternyata Uang = Hutang


Bisa anda lihat dari skema diatas...., bahwa uang dari bank sentral bisa beredar dan ada di sektor riil atau masyarakat adalah melalui hutang. Dan hanya hutang itulah satu2nya jalan uang masuk ke peredaran. Tidak ada jalan lain....!!!

Dan hanya ada 2 jalur hutang....

1) Lewat pemerintah, yang berarti hutang pemerintah.
Yang akhirnya dibayar rakyat lewat pajak.

2) Lewat bank, yang berarti masyarakat berhutang langsung ke bank, baik itu hutang personal ataupun perusahaan.
Dibayar langsung oleh pihak yang berhutang.


Apakah anda melihat ada jalan lain uang bisa masuk ke peredaran....?

Jadi dapat kita ketahui, bahwa ternyata seluruh uang yang ada dalam peredaran berasal dari hutang yang akhirnya harus dibayar....

Termasuk uang yang saat ini anda pegang, uang yang saat ini ada di dompet anda.... itu adalah uang hutang. Meskipun anda memperolehnya dengan bekerja atau menjual sesuatu, tetap saja itu adalah uang hutang.

Uang itu tadinya dipinjam oleh pemerintah ataupun seseorang kepada bank, lalu digunakan untuk membayar anda....

Dan uang hutang..., suatu saat harus dikembalikan..... uang yang berasal dari bank itu harus pulang ke bank lagi....

Jadi dapat kita simpulkan jika tidak ada hutang maka tidak ada satu rupiah pun dalam peredaran. Memang hal ini menyalahi akuntansi, tapi inilah kenyataannya.....


UANG = HUTANG
Tidak Ada Hutang = Tidak Ada Uang


Paham ... !!! Jangan bingung lagi ya..... :-)

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Rupiah berasal dari BI dan pasti akan kembali ke BI, karena hutang harus dibayar. Ya toh.....

Dan jika semua hutang terbayar lunas – hutang pemerintah & seluruh hutang di masyarakat - berarti semua Rupiah yang beredar telah kembali pulang ke BI. Maka tidak akan ada satu rupiahpun dalam peredaran, karena semua rupiah sudah pulang ke kampung halamannya.....

Jika tidak ada hutang, maka tidak ada uang dalam peredaran. Tidak ada uang beredar, maka tidak ada alat tukar...., maka akan sulit melakukan pertukaran/jual-beli. Dan jika tidak ada jual beli, maka ekonomi macet.... Ekonomi macet, maka terjadi kerusuhan dan kekacauan sosial dimana-mana.....

Mumet ora kowe.......

Bingung ...? atau Paham...?




Tambah Gila...., Hutang ≠ Hutang + Bunga


Sebagaimana kita tahu bahwa hutang selalu berbunga. Jadi hutang harus dibayar dengan uang pokok + bunga. Dengan begitu, maka jumlah pembayaran hutang pasti selalu lebih besar dari uang pokoknya...., karena ada bunga.

Hutang dibayar dengan uang pokok + bunga, dimana uang pokok adalah uang hutang itu sendiri. Maka, kalau kita tulis dalam persamaan matematis....

H = H + B
Dimana :
H = Hutang = Uang Pokok
B = Bunga

Mungkinkah persamaan matematis yang seperti itu.....? Bandingkan dengan persamaan yang berikut ini....

x = x + y

atau

1 = 1 + 2

Mungkin atau mustahil...?

Tapi ternyata memang benar...., tidak ada yang mustahil di dunia ini. Persamaan matematis yang tidak mungkin pun, dalam dunia hutang jadi mungkin....

Mau tahu rahasianya....?




Hutang Abadi


Sebelumnya marilah kita gunakan persamaan itu untuk seluruh uang yang ada dalam peredaran....

Sekarang kita tahu bahwa seluruh uang yang ada dalam peredaran adalah uang hutang dari BI. Jadi seluruh uang yang ada dalam peredaran itu, termasuk yang ada di dompet anda, semuanya adalah uang pokok. Dan hanya uang pokok itulah yang diciptakan oleh BI.

Jadi meskipun seluruh uang yang ada dalam peredaran digunakan untuk membayar hutang kepada BI, baik itu hutang pemerintah maupun masyarakat, tidak akan pernah ada cukup uang untuk membayar hutang.....

Kenapa ....?

Karena yang terbayar baru uang pokok, belum bunganya.... Ya toh.....

Lalu dari mana uang untuk membayar bunga, jika BI hanya menciptakan uang pokok....?

Jawabannya, “TIDAK ADA”. Tidak ada uang untuk membayar bunga.... BI tidak pernah menciptakannya, dan tidak akan pernah menciptakannya. Seluruh uang yang keluar dari BI adalah uang pokok.... bukan uang bunga....

Terus darimana selama ini masyarakat bisa membayar utang + bunga dan masih cukup uang dalam peredaran...? Buktinya, sampai saat ini masih ada uang di kantong anda.....

Karena itulah, dalam skema diatas tadi, panah yang arahnya menuju ke BI lebih tebal dari pada panah yang keluar dari BI. Karena jumlah uang yang masuk harus lebih besar dari uang yang keluar dari BI.

Uang pokok + bunga yang kembali ke BI > uang pokok yang keluar dari BI

H + B > H

Lalu dari mana selama ini pemerintah membayar bunga hutangnya....?

Dari mana seluruh masyarakat bisa membayar bunga hutangnya....?

Karena selama ini BI sebagai bank sentral memonopoli sistem keuangan, maka hanya dari BI lah mata uang berasal, tidak ada sumber mata uang yang lain.... Apakah anda melihat ada sumber mata uang yang lain....?

Jadi, dari BI lagi lah masyarakat dan pemerintah memperoleh uang untuk membayar bunga... dan hal ini berarti...

Jawabnya adalah dari hutang baru.... Gali lobang tutup lobang. Itulah tujuan dari sistem keuangan yang ada saat ini. HUTANG YANG ABADI....

Masyarakat, secara keseluruhan bukan personal, harus berhutang lagi untuk menutup hutang + bunga yang sudah ada , agar tetap ada uang dalam peredaran. Sehingga semakin lama, lobang yang digali akan semakin dalam....

Hutang tersebut tidak akan pernah terbayar dan tidak akan pernah lunas. Baik itu hutang pemerintah maupun total hutang yang ada dimasyarakat. Justru pasti akan semakin bertambah. Karena beban bunga yang harus dibayar juga bertambah.....

Pikirkanlah...!!!

Tambah bingung..... atau tambah paham.....?




Stock & Flow


Dalam sistem keuangan ada dua hal yang sangat berpengaruh, yaitu:

1) Stock, jumlah uang dalam peredaran
2) Flow, jumlah transaksi yang mengunakan uang dalam peredaran tersebut, sehingga uang terus berpindah tangan/ mengalir.

Dan flow, biasanya lebih berpengaruh pada sistem keuangan dari pada stock. Karena flow dapat melipatgandakan stock secara efektif.

Cara kerja flow kira2 seperti ini:
Misal, di dunia ini hanya ada 2 orang, “aku” dan “kamu”....

“aku” sebagai orang kaya yang mempunyai selembar uang Rp 1.000,-. Dan itu adalah satu2nya uang yang ada dalam stock.

Jika aku meminjami “kamu” uang itu, mungkinkah kau mengembalikannya seratus ribu padaku....?

Tidak mungkin kan...., jangankan seratus ribu, dua ribu saja tidak mungkin.... Dari mana kau akan mendapat uang untuk membayar bunga yang sembilan puluh sembilan ribu itu....? Kan stock hanya selembar Rp 1.000,-.....

Jangan bilang ngeprint sendiri low.... :-)

Ya..., begitulah.... Jika aku menyuruhmu membayar dalam sekali bayar, maka tidak mungkin....

Namun jika aku menyuruhmu membayarnya dengan cicilan seribu rupiah, maka akan terjadi keajaiban.....

Yang kuperlukan agar kau dapat membayar hutang seratus ribu dengan stock hanya selembar Rp 1.000,- adalah memberimu kesempatan untuk mendapatkan seribu rupiah itu kembali. Yaitu, kau bisa mendapatkan upah dengan cara bekerja padaku. Jadi, kau bisa mendapatkan seribu itu kembali setiap kali kau mencicil hutangmu padaku.....

Pintar kan..... ?

Aku tinggal duduk diam dapat duit..., dan kau selalu bekerja & mecicil untukku.....

Setelah kau membayar seribu rupiah itu padaku. Maka aku kembalikan lagi padamu sebagai upah atas pekerjaanmu. Setelah kau kembalikan lagi padaku, aku kembalikan lagi padamu. Begitu seterusnya.... Kau akan terus bekerja untukku hingga seratus ribu itu lunas....

Jangankan seratus ribu, sejuta ribu pun bisa kau lunasi jika kau panjang umur. Dan kau terus bekerja padaku....

Begitulah prinsip kerja flow....

Dengan memanfaatkan flow, maka satu2nya selembar Rp 1000,- itu bisa membayar cicilan berkali-kali. Dan menjadi ribuan, bahkan jutaan, tak terbatas.....

Masuk akal tow...., jadi kau harus bekerja untuk mendapatkan uang itu. Seperti dalam dunia riil ini kan.... mereka tinggal ngeprint, kau lah yang bekerja keras....

Ter la lu....

Tapi yang sebenarnya berharga/bernilai adalah pekerjaan yang kau lakukan, bukan selembar kertas Rp 1.000,- itu. Pekerjaanmu lah yang memberikan nilai kepada kertas itu, bukan sebaliknya....

Jadi mata uang sebenarnya tidak ada nilainya sama sekali, itu hanyalah selembar kertas. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah bernilai lebih dari selembar kertas.....

Namun, dapat kita lihat bahwa hubungan antara kau dan aku, bukanlah hubungan yang harmonis. Hubungan tersebut merupakan hubungan yang sangat tidak sederajad....

Kenapa....? Karena ada uang diantara kita.....

Aku telah memperbudak dirimu. Hanya karena aku menguasai stock selembar Rp 1.000,- aku bisa menyuruhmu bekerja padaku. Pekerjaan apapun yang aku ingin kau lakukan, maka akan kau lakukan, demi mendapat selembar kertas itu kembali dan demi mecicil hutangmu padaku..... aku untung & kau buntung....

Seperti itu kan kenyataan yang ada disekitar kita....

Bukankah kita sering mendengar “....Pekerjaan apapun akan aku lakukan, asal halal....” demi mendapatkan beberapa lembar kertas....

Wake up brow....!!!

Kau selalu melakukan kegiatan produktif yang bernilai bagiku. Sedangkan aku tidak pernah melakukan kegiatan yang produktif bagimu. Aku hanya memberimu selembar kertas, tapi justru akulah yang menjadi tuanmu. Aku akan selalu menjadi orang kaya. Dan kau akan selalu bekerja untukku.... ha ha ha..... :-)
Seperti itulah prinsip dasar perbudakan modern.... Dengan menggunakan sistem keuangan yang memanfaatkan stock & flow + bunga + ketidaktahuan kita selama ini....




Terjebak Dalam Sistem


Dapat kita lihat, dalam kehidupan ini kita memang sudah terjebak dalam sistem keuangan tersebut.

Coba anda bayangkan, jika posisi “aku” dalam contoh diatas diganti dengan perbankan, dan posisi “kamu” diganti dengan masyarakat. Lalu stock adalah seluruh uang yang ada dalam peredaran.

Bayangkanlah...... pikirkanlah........... renungkanlah..................

Sudah dapat gambaran.......?

Ya..., perbankan melalui pemerintahan dan seluruh perusahaan yang didukungnya telah memperbudak kita semua. Mereka hanya memberi kita kertas bergambar pahlawanan dengan beberapa angka nol, tapi kita memberikan seluruh kekayaan riil kita padanya.....

Kita memberikan seluruh tenaga, waktu, pikiran, serta seluruh kegiatan produktif lainnya pada mereka. Sebenarnya kita selalu bekerja untuk mereka..... Kitalah yang bekerja, dan merekalah yang menikmati semua kekayaan yang ada......

Para bankir lah yang kaya raya...... selama ini kita telah mentransfer seluruh kekayaan riil kita pada mereka....

Seperti itulah... !!!

Mengapa selama ini kita bisa sebodoh itu....?

Ingat, selama ini kita bersekolah dari generasi ke generasi bukanlah untuk menjadi terpelajar, tapi terdidik. Terdidik untuk apa....? Terdidik untuk bekerja.... itulah yang mereka inginkan.....

Jika sampai disini masih muncul bantahan dalam benak anda, itulah pola pikir "monyet dalam kandang" yang tidak mau mengambil pisang, dan akan berusaha menghalangi monyet yang akan mengambil pisang..... Masing ingat tentang monyet dalam kandang....?

Pola pikir "monyet dalam kandang" itu terbentuk tanpa kita sadari......

Apa alasannya membantah....? Pola pikir "monyet dalam kandang" itu tidak butuh alasan, hanya karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, sudah sejak dulu sistem yang ada seperti ini, dan kandang ini sungguh terasa nyaman dan wajar.....

Memang tidak terasa, karena perbudakan tersebut dilakukan dengan sistem yang halus dan mengenai semua orang. Tak terkecuali kau dan aku. Kita semua sudah terjebak dalam sistem.

Beban perbudakan itu terdistribusi merata, ringan sama dijinjing berat sama dipikul.....

Perbudakan modern ini dilakukan secara masal. Dan karena terjadi pada banyak orang sekaligus, maka bisa jadi anda menganggapnya sebagai suatu kewajaran dan tidak perlu dirisaukan.....

Tapi bagi saya tidak, ini bukanlah kewajaran..... ini adalah tirani, ini adalah kesewenang-wenangan, dan ini adalah perbudakan.... !!!

Saat banyak orang harus bekerja keras membanting tulang dalam kegiatan yang produktif dan bermanfaat demi kepentingan masyarakat. Bahkan ada yang terpaksa memulung sampah demi mendapatkan sepiring nasi, namun tetap juga kekurangan....

Sedangkan disisi lain, ada sekumpulan orang yang tidak melakukan kegiatan produktif sama sekali, justru merekalah yang paling kaya. Mereka hanya memiliki kertas yang mereka sebut uang, lalu meminjamkannya kepada masyarakat yang produktif dengan menarik bunga. Mereka telah memperbudak masyarakat....

Selama ini kita mengenal istilah buruh. Hubungan seperti apakah yang dimiliki antara buruh dengan perusahaan....? Hubungan manusiawi atau hubungan uang....? Sebagai buruh, mereka wajib bekerja, wajib meninggalkan urusan kelurga, bahkan wajib meninggalkan anak yang seharusnya masih diberi ASI....

Sebenarnya lebih penting mana, keluarga atau kerja...?

Demi apa semua itu....? Demi beberapa lembar kertas.....

Ini bukanlah kandang yang wajar....

Ini adalah tindakan yang TIDAK MANUSIAWI & TIDAK ADIL... !!!




Kepercayaan Yang Tertipu


Selama ini kita telah memberikan kepercayaan yang luar biasa besar kepada orang2 yang telah menipu dan merampas kekayaan riil kita dari generasi ke generasi.... hingga detik ini....

Selama ini kita telah diperbudak, tapi merasa bebas dan justru menyetujui perbudakan itu....

Dengan apa kita menyetujui perbudakan itu....?

Kita menyetujui perbudakan itu dengan mempercayai bahwa mata uang itu adalah uang yang sesungguhnya. Dari generasi ke generasi kita mempercayai hal itu dan tak pernah mempertanyakannya.....

Mata uang sebenarnya tidak punya nilai sama sekali..... Kertas tersebut hanya menjadi bernilai karena kepercayaan kita padanya, karena kita mau menggunakan kertas tersebut sebagai alat tukar.... sehingga dengan mudahnya kita dipecah belah dan dipaksa berkompetisi dalam pekerjaan untuk mendapatkannya.... padahal mereka tinggal ngeprint saja....

Jadi pekerjaan dan kepercayaan masyarakat terhadap kertas tersebutlah yang membuatnya bernilai....

Kepercayaan masyarakat yang tidak tahu menahu itu lah yang dimanfaatkan oleh tuan2 kita untuk memperbudak kita semua. Dan mereka, sebisa mungkin akan menjaga agar masyarakat tetap tidak tahu.... agar kau dan aku dapat dengan mudah untuk ditipu dan diperbudak.... selamanya....

Tanpa kepercayaan masyarakat, lenyap sudah nilai dari kertas tersebut.....

Bayangkan, jika di Indonesia ini atau bahkan seluruh dunia tak seorangpun mau melakukan transaksi jual beli dengan kertas tersebut. Dan masyarakat hanya mau melakukan transaksi dengan koin emas dan perak. Meskipun pemerintah memaksakannya dengan menetapkan hukum bahwa kertas itu adalah alat pembayaran yang sah, jika masyarakat tetap tidak mempercayainya....

Apa yang akan terjadi....?

Pastilah perbankan tidak bisa memperbudak kita lagi. Karena mereka tidak mungkin bisa ngeprint koin emas dan perak. Dengan catatan, kita tidak menyimpan koin emas & perak kita di bank....




Transfer Kekayaan


Jadi, pada dasarnya mata uang yang dikeluarkan berdasarkan sistem uang hutang, merupakan alat untuk mentransfer kekayaan yang sesungguhnya. Transfer dari sektor riil ke sektor finansial. Transfer dari orang2 produktif seperti anda semua ke para penguasa oligarki dan tirani....

Btw.... oligarki adalah kekuasaan yang dipegang oleh sekelompok kecil orang tertentu. Tirani adalah kesewenang wenangan penguasa.....

Sekarang dapat kita ketahui bahwa kita pun dikuasai oleh para oligarki dan tirani. Bukan kapitalis, bukan sosilalis, bukan demokratis, bukan yang lain.... Itu semua hanyalah topeng untuk menutupi oligarki dan tirani yang sebenarnya.... Merekalah penguasa sesungguhnya dibalik semua itu....

Dan, setiap negara dipimpin oleh suatu pemerintahan. Namanya saja “pemerintah”, jadi mereka itu maunya pasti memerintah rakyatnya, bukan menyejahterakan.... Kesejahteraan rakyat itu urusan belakangan, yang penting perintah dilaksanakan.... Coba kalau namanya “penyejahteraan”, pasti akan lain ceritanya...

Dan kita tidak akan pernah benar2 merdeka, selama kita dikuasai oleh sistem uang hutang.....
 



Seperti itulah struktur piramida sistem uang hutang. Kita, masyarakat berada di paling bawah piramida. Dan kekayaan riil yang ada di masyarakat di transfer ke tangan para oligarki dengan menggunakan mata uang melalui pemerintahan dan perusahaan....

Pemerintah mereka gunakan untuk membuat hukum sesuai dengan kepentingan mereka serta mensahkan tindakan mereka yang kejam itu.... Dan perusahaan mereka gunakan untuk mengeruk kekayaan sebanyak mungkin......

Jadi, bukan hanya memperbudak masyarakat...., tapi pemerintah dan perusahaan pun juga mereka gunakan sebagai alat untuk memperbudak kita semua.....https://www.google.co.id/search?q=buku+monyet&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&channel=sb&gws_rd=cr&ei=nnQjVI2cC5KfugTxlYLQDw#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar